Lynx tersenyum tipis dan menatap para penduduk yang terlihat tidak mempercayainya dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku mengerti keraguan kalian, tetapi percayalah, aku tidak akan memberikan saran ini jika aku tidak yakin bahwa ini yang terbaik."

Setelah suasana sedikit lebih tenang, Lynx kembali memandang Dio. "Pergilah ke bekas kampung perampok. Ambil persediaan makanan apa pun yang bisa kalian bawa sebagai bekal perjalanan ke barat."

Dio mengangguk, meski ragu masih terpancar di wajahnya. "Baiklah, Lynx. Kami akan melakukannya."

Lynx tersenyum tipis melihat sikap Dio. "Kalian akan percaya setelah melihat semuanya sendiri," pikirnya.

Setelah memastikan mereka memahami arahannya, Lynx memandang mereka sekali lagi sebelum berbalik. "Aku akan menemui kalian di kampung Surya," katanya dengan nada tegas.

Dia segera melangkah menuju kampung Surya, pikirannya melayang pada segala hal yang telah ia tinggalkan. "Aku sudah terlalu lama meninggalkan kampung Surya, terutama..." Lynx tersenyum kecil saat bayangan sosok Leena muncul dalam benaknya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Lynx memutuskan singgah di bekas kampung perampok untuk memastikan keamanan para penduduk. Dia menggunakan kemampuan tembus pandangnya untuk menyisir setiap sudut kampung itu. "Sudah aman. Tidak ada siapa pun di tempat ini," gumamnya. Namun, sesuatu membuatnya mengernyit.

"Kenapa jumlah persediaan makanan mereka sangat sedikit?" pikir Lynx, bingung. Setelah mengamati lebih lanjut, dia mulai menyimpulkan penyebabnya.

"Mungkinkah mereka membawa sebagian besar persediaan makanan ke jurang tempat mereka berniat menjebakku? Karena harus menunggu lama, mereka pasti membawanya ke sana," Lynx berkata pelan sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Dan aku malah menghancurkan semuanya," lanjutnya, diikuti tawa kecil yang menertawakan kesalahannya sendiri.

Lynx lalu mengeluarkan sebagian besar persediaan makanan yang dimilikinya dan meletakkannya ke sebuah bangunan, "Mereka akan menemukannya." kata Lynx, dilanjutkan dengan kepergiannya dari kampung perampok.

Saat Lynx mulai menjauh, beberapa penduduk mulai berbisik tentang keajaiban yang baru saja mereka alami, mereka akhirnya mengikuti apa yang diperintahkan Lynx dan memulai perjalanan mereka.

"Sepertinya aku sudah semakin mahir mengendalikan energiku. Sekarang aku mampu berlari dan melompati pohon-pohon ini lebih cepat dari sebelumnya," batin Lynx sambil melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Dengan kecepatan dan kegesitannya, serta mengandalkan penglihatan tembus pandangnya untuk melihat di malam hari, Lynx berlari tanpa henti. Saat matahari mulai terbit esoknya, dia sudah tiba di sebuah tempat yang dikenalnya.

"Seharusnya mereka sudah tiba di gua ini," pikir Lynx.

Dia melompat ke atas pohon besar di dekatnya, mengambil sebagian senjata milik para perampok yang sebelumnya dia simpan di cincin penyimpanan, dan memastikan semuanya terikat dengan aman, jauh dari pandangan siapa pun dari bawah. Setelah selesai, Lynx turun untuk menemui penduduk yang sedang menunggunya dengan cemas.

"Kepala suku, akhirnya kamu datang juga," kata Bruno dengan nada lega. Sejak memutuskan untuk mengikuti Lynx, rasa khawatir tak pernah hilang dari pikirannya. Baginya, kekalahan Lynx berarti kematiannya, karena para perampok tidak mungkin melepaskan pengkhianat seperti dirinya.

Lynx memperhatikan Bruno dan para penduduk yang duduk di sekitarnya. Setelah memastikan kondisi mereka aman, dia menceritakan tentang kematian Kronar, juga keberhasilan membebaskan para tahanan. Berita itu disambut sorak sorai kebahagiaan, meski masih ada sedikit rasa cemas di antara mereka.

"Bruno, bisakah kau naik ke atas pohon sana dan turunkan senjata yang ada di sana?" pinta Lynx sambil menunjuk ke arah pohon besar.

Tanpa banyak bicara, Bruno segera memanjat. Saat sampai di atas, matanya membelalak melihat puluhan tombak yang terikat rapi. Dengan hati-hati, dia melepaskan ikatan dan menurunkan tombak-tombak itu satu per satu. "Kepala suku... ini?" gumamnya bingung sambil memandang tumpukan tombak di depannya.

"Aku pernah tinggal di tempat ini dan sengaja menyimpan tombak-tombak itu. Kalian gunakanlah untuk menjaga diri selama perjalanan nanti," jelas Lynx. "Di sebelah sana juga ada beberapa busur dan anak panah yang kusimpan. Ambillah untuk perlindungan kalian."

Setelah memastikan kondisi mereka dan memberi arahan perjalanan, Lynx berpamitan. "Jaga diri kalian. Aku akan bertemu kalian di kampung Surya."

Lynx segera menghilang dari pandangan mereka. Dengan kecepatannya, Lynx berlari menuju pantai untuk beristirahat dan makan.

Saat melihat pantai, Lynx berhenti dan duduk di atas pasir. Tangannya menyapu bebatuan kecil yang tertutupi pasir, dimana terdapat tumpukan batu yang pernah membentuk tulisan SOS yang pernah dibuatnya. "Tanda SOS yang kubuat bersama Leena... Hingga sekarang tidak ada yang menemukan kami di sini," gumamnya pelan. Lynx merenungkan pengalaman pertamanya terdampar di tempat itu, seolah semua kenangan kembali mengalir deras. "Dimensi yang berbeda..." batinnya, diiringi helaan napas panjang yang terasa berat. Seakan-akan, dengan napas itu, ia mencoba melepaskan beban yang terus menghimpit hatinya.

Ia memandang laut lepas yang membentang tanpa batas, pikirannya dipenuhi perasaan campur aduk. "Rasanya aku sudah terlalu lama tidak bersantai," ucapnya lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

Kenangan bersama Leena di tempat itu muncul dengan jelas di benaknya. Saat pertama kali mereka terdampar, mereka hanya memiliki satu harapan, bertahan hidup dan kembali pulang. "Saat kami masih berdua, aku hanya ingin melindunginya dan berharap bisa kembali ke dunia asal kami. Namun sekarang..." Lynx berhenti sejenak, menatap cakrawala dengan sorot mata yang tegas. "Tanggung jawabku semakin besar. Aku harus memastikan keselamatan semua penduduk di pulau ini."

Dengan perlahan, Lynx merebahkan tubuhnya di atas pasir yang hangat, memandang matahari yang perlahan naik di ufuk timur. Tangannya terangkat, mencoba menggenggam sinar mentari yang terasa hangat di sela-sela jarinya. Namun sinar itu hanya menyentuh kulitnya, seperti mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya ia genggam.

Kenangan saat bersama Leena di kampung Surya kembali menghampiri pikirannya, mengisi ruang sunyi dalam hatinya. Ia teringat saat mereka duduk bersama teras depan rumah, hanya menikmati keheningan malam. Kala itu, Leena menatapnya dengan lembut dan berkata, "Lynx, aku lama tidak melihat sikap jahilmu. Ada kalanya aku merindukan kejahilanmu. Sekarang kamu selalu serius, seolah beban berat ada di pundakmu."

Lynx hanya menanggapinya dengan senyum kecil. Ia mendekat, mengecup kening Leena dengan penuh kasih. Saat itu, dia tidak menjawab, hanya membiarkan keheningan bicara untuknya. Kini, kenangan itu terasa begitu hidup. "Terlalu banyak masalah yang kuhadapi saat ini," pikirnya, membiarkan rasa rindu bercampur dengan tekad untuk terus melangkah.

"Rasanya aku ingin bersantai sejenak," katanya sambil tersenyum kecil."Sejak kematian Chiko, rasanya semua terasa berubah."

Dia melepas pakaiannya dan menyimpannya di cincin penyimpanan, lalu melompat ke laut. Lynx berenang dan menyelam sepuasnya, menikmati kesendirian sambil berusaha melepaskan beban yang menghimpit pikirannya.

Saat tubuhnya mengapung di permukaan air, sebuah ide muncul. "Dengan kekuatan yang kumiliki, mungkinkah aku bisa terbang? Bukankah Rayden pernah melayang di langit saat itu?" pikirnya, matanya berbinar penuh semangat.

Setelah puas bermain air, Lynx berenang kembali ke pantai dan mulai mencoba berbagai cara untuk terbang. Dari melompat tinggi hingga mengayunkan tangannya seperti burung, semuanya berakhir dengan kegagalan.

"Kenapa ini tidak berhasil?" keluhnya frustrasi, menatap langit dengan kesal.

Lynx kembali duduk dan merenung. "Bagaimana jika aku menembakkan bola energi ke tanah? Mungkin bisa seperti roket, membuatku melayang ke udara," pikirnya.

Dia membentuk kuda-kuda, kedua telapak tangannya saling berhadapan di samping badannya. Bola energi perlahan terbentuk di antara tangannya. Tapi keraguan muncul.

"Bagaimana jika ini malah membuat lubang besar dan menghancurkan area ini?" pikirnya cemas.

Namun rasa penasaran mendorongnya untuk mencoba. Lynx menembakkan bola energi itu ke tanah sambil fokus membayangkan tubuhnya melayang ke atas. Dan benar saja, tubuhnya terpental tinggi ke langit di atas laut. Lynx merasakan kegembiraan luar biasa, meski sedikit gugup karena ketinggian.

Namun, ketika mencoba menembakkan energi dari atas untuk bertahan di udara, hasilnya meleset jauh dari harapan. Energi itu malah menghantam laut, menciptakan gelombang besar. Sementara itu, Lynx terjatuh dengan kecepatan tinggi dan menghantam permukaan air, tenggelam ke dalam laut.

Saat berusaha berenang ke permukaan, tiba-tiba sesuatu melilit tubuhnya. Sebuah tentakel besar menariknya semakin dalam. Dari kegelapan, muncul monster gurita mutasi dengan mata merah menyala dan kulit penuh bercak aneh. Tentakel-tentakelnya mencengkeram Lynx dengan kuat, membuatnya sulit bernapas."Mungkinkah aku akan mati disini."

Dalam keadaan putus asa, Lynx mengeluarkan bom fragment dari cincin penyimpanannya. "Ini satu-satunya harapanku," gumamnya dengan suara lemah.

Dia melepaskan bom itu ke arah monster dan berusaha melindungi tubuhnya dengan energi yang tersisa untuk melindungi diri. Ledakan besar terjadi, mengagetkan makhluk itu dan melonggarkan cengkeramannya. Lynx segera memanfaatkan kesempatan itu untuk meluncur ke permukaan dengan tembakan energi.

Saat mencapai pantai, Lynx terjatuh ke pasir, napasnya terengah-engah. Dia memandang laut dengan tatapan penuh ketegangan. "Aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dan tidak akan mencoba terbang lagi." bisiknya. "Tubuhku pasti hancur jika menabrak tanah karena jatuh dari ketinggian itu. Aku beruntung masih selamat bisa jatuh di atas laut."

